Cerita ini hanya fiksi, pemberian nama dan tempat
dilakukan penulis untuk memudahkan dalam memvisualisasikan karakter dan latar
kejadian.
CINTA
PEMUDA DESA YANG TERGADAI
Sebut namanya Mas Citro, seorang
Pemuda kampung yang sementara lanjut kuliah di salah satu Kampus ternama di
Kota Makassar, ia adalah Anak Petani garap dari Mangkutana (satu desa di ujung
Provinsi Sulawesi Selatan). Ia mengadu nasib di kota daeng mengenyam pendidikan
untuk masa depannya kelak. Mengambil program Studi Informatika mengharuskannya
berinteraksi dengan berbagai teknologi baru, tepatnya baru ia ketahui, dari
Microsoft Office, Multimedia, hingga Teknologi AI. Hal inilah mengharuskan
Orang tuanya di kampung menjual sepasang kambing beserta 2 anaknya untuk
membelikan Citro Komputer laptop, karena Program Studi yang citro pilih
mengharuskannya berinteraksi dengan barang tersebut, Dari semester awal, dia
berkenalan dengan Laptopnya, hingga semester Lima. Citro selalu berinteraksi
dengan laptopnya tersebut bahkan lebih sering dari teman kelasnya. Sampai-sampai dia belum
mengenal separuh teman kelasnya hingga semester 5. Belum lagi kebanyakan
kuliahnya dilakukan dengan daring. Waktu dan tempat lebih fleksibel, membuat
beberapa dosen memilih kuliah dilakukan daring saja, kadang tatap muka
dilakukan jika dosennya ingin melakukan assessment ke Mahasiswa atau hal-hal
yang tidak bisa disampaikan melalui daring.
Citro dikenal tertutup oleh teman
kelas, hanya berbicara seperlunya, pun dalam diskusi kelas daring, kerap kali
mematikan kamera dan mic aplikasi zoomnya. Hanya foto profil siluit dan nama
yang ia tampil - CITRO PRABANDANIE 19890409 - , gabungan Nama dan Nimnya. namun
siapa sangka Citro menaruh hati dengan salah satu teman kelasnya. Sebut namanya
Putri, Seorang gadis Muslimah dengan perawakan bercadar. Tak bisa di
deskripsikan fisiknya selain mata dan alis yang minimalis. Pun asal usulnya,
tak ada informasi detail. Putri adalah Mahasiswa yang cerdas, dalam diskusi di
Zoom kerap kali dia mengeluarkan statement Out of the box, dikala mahasiswa
lain mengeluarkan pendapat atau menjawab pertanyaan berkat bantuan Chat GPT dan
Google Bard. Putri mampu menjelaskan dengan detail, berisi, terstruktur,
mengalir seperti air namun membuat diskusi menjadi hidup dan berkwalitas. Hal
itulah yang membuat citro menaruh hati kepada Putri. Kadang saat zoom
berlangsung diam-diam citro mem-PIN akun Putri agar videonya lebih besar
dibanding dosen yang sedang menjelaskan dengan dahi yang berkerut. Kadang Citro
kecewa tatkala Putri tidak menampilkan Videonya, hanya foto siluit wanita
bercadar dengan bendera Negara Palestina di kepala, Lalu nama Putri Ramadhani 20030125.
Seperti yang Kerap dilakukan Citro. Terkadang Citro menunggu suara Putri dalam
statement-statement diskusi yang berwawasan dan sangat indah ia dengar.
Semester telah berganti, libur
telah usai, Kuliah perdana telah dimulai. Namun Citro tidak menemukan akun
Putri di Zoom. Tidak dengan Akun foto Profil Siluit dengan wanita Bercadar
Bendera Palestina, atau hanya tulisan tauhid La Ilaha Illallah. Sudah dua
minggu kuliah berlangsung, Putri tidak pernah bergabung lagi, baik luring
maupun daring. Ketua kelas Menghubungi Putri, dua centang Biru menandakan Pesan
WA telah terbaca namun tidak ada balasan. Ketua Kelas menjelaskan dalam Room
Zoom, bahwa putri Cuma membaca pesannya tapi tidak dibalas. Beberapa teman
kelas mencoba menghubungi Putri, namun kini semua hanya mengkonfirmasi centang
1. Tak ada kabar selama sebulan.
Tiba-tiba Citro mendapat pesan
dari Nomor baru, “Assalamualaikum, maaf Akhi, saya Putri teman kelas di Prodi
Informatika”. Citro bangkit dari leye-leyenya di Kamar Kostnya yang sempit,
duduk sila, menegakkan badan, menyeruput kopi yang sudah dingin, membaca
beberapa kali WA dari nomor baru itu, dengan perasaan kurang yakin, apakah
benar ini putri, kenapa putri menghubungi saya, bukankah di Kelas ada 25
Mahasiswa dengan 21 Perempuan dan 4 Laki-laki, kenapa Wa-nya ke saya. Kemudian
mengetik beberapa kalimat, menghapusnya lagi, ketik, hapus lagi, ketik lagi, Baca “Waalaikumsalam
dinda, kemana selama ini, kemapa tidak memberi kabar ke kelas?.”. di Read, dua
centang Biru, notifikasi Sedang mengetik di bawah nomor WA, di samping foto
profil seorang anak kecil yang terluka dengan background Bendera palestina
dengan kalimat tauhid. Senyap, hanya detak jam analog di meja belajar lesehan, raungan
kendaraan terde ngar sayup-sayup dari kejauhan, notifikasi mengetik muncul
lagi, hilang lagi. Tiba-tiba muncul balasan. “maaf Kanda, selama ini tidak
berkabar di kelas, saya lagi ada urusan keluarga jadi tidak bisa bergabung di
kelas baik daring maupun luring.” “Memang dimana sekarang?” balas Citro dan
tidak di balas lagi oleh Putri. Citro ingin menyampaikan kejadian barusan di
grup kelas, tapi berfikir jangan sampai hal tersebut mengganggu Putri, akhirnya
Citro mengurungkan niatnya. Esoknya citro
melihat beberapa notifikasi di Smartphonenya. Permintaan pertemaman di
beberapa akun media sosialnya. Facebook, Instagram, Tiktok, Linked, semua di
Add atas nama Putri ramadhani denga foto profil gadis remaja Palestina bercadar
dengan ikat kepala berwarna hitam, putih, hijau merah dengan telunjuk tangan
kanan menunjuk ke atas. Citro Mengkonfirmasi semuanya, Chat ke semua akun.
Namun tidak ada balasan.
BERSAMBUNG …….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar